Dalam pandangan Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat penting. Bahkan guru (baca:ulama) ditempatkan laiknya pengganti kedudukan para rasul. Tak lain karena ia menempati peran vital dalam penjagaan kemurnian ajaran dan syariat Islam, sebagaimana peran penjagaan syariat yang diemban oleh para utusan.

            Karena pentingnya eksistensi seorang guru ini, menjadikannya memiliki kedudukan lebih mulia dari yang lainnya . Rasulullah ﷺ bersabda:

ليس منا من لم يجل كبيرنا و يرحم صغيرنا و يعرف لعالمنا حقه

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama” (HR. Ahmad)

            Dalam hadits ini Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang pentingnya hak seorang alim atau guru. Bahkan beliau menegaskan bahwa siapa yang tidak mengetahui hak seorang guru, ia bukan termasuk dari golongan umatnya, atau lebih tepatnya ‘tidak sempurna imannya’ menurut penjelasan ulama. Adapun hak seorang guru diantaranya adalah dihormati, dihargai, dan dijunjung tinggi.

Menghormati Guru Wasilah Memperoleh Ilmu

Bagi seorang penuntut ilmu, menghargai ilmu dan menghormati guru adalah hal muthlak yang harus dilakukan. karena hal itu merupakan faktor terkuat untuk memperoleh ilmu. Syaikh Burhanuddin az-Zarnuji mengatakan:

اعلم أن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم و أهله و تعظيم الأستاذ وتوقي

            “Ketahuilah bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan mendapatkan ilmu atapun juga memanfaatkan ilmu tersebut kecuali ia memuliakan ilmu dan para ahli ilmu, menghormati ustadz dan juga menghargainya” (Ta’lim al-Muta’alim. Hlm;78)

              Adalah generasi salafusshalih, generasi yang paham betul tentang kedudukan orang yang mengajarkan ilmu diantara mereka. Hal ini tercermin dari tindak-tanduk mereka saat membersamai guru. Salah satunya seperti yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,

كنا جلوساً في المسجد إذ خرج رسول الله فجلس إلينا فكأن على رؤوسنا الطير لا يتكلم أحد منا

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Ibnu Abbas seorang sahabat yang mulia, ahlu bait Rasulullah ﷺ, pernah menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit al-Anshari radhiallahu anhu dan berkata,

هكذا أمرنا أن نفعل بعلمائنا

Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami”.

            Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata: “Aku bagaikan budak dari orang yang mengajarkanku (ilmu) walaupun satu huruf. Apabila berkehendak ia bisa menjualku, ataupun juga membebaskanku” (Ta’lim al-Muta’alim. Hlm;78)

            Demikianlah gambaran bagaimana para salaf  dalam memperlakukan para alim diantara mereka. Tak lain mereka sangat memahami faidah dari akhlak karimah tersebut. Mereka mengerti bahwa menghormati guru adalah wasilah dan jembatan guna memperoleh ilmu.

Bukan Hanya Kewajiban Penuntut Ilmu

            Menghormati dan menghargai guru bukan hanya tugas seorang penuntut ilmu. Melainkan tugas dan kewajiban semua orang. Sebab, merhormati guru sama dengan menghargai ilmu, dan menghargai ilmu merupakan kunci sebuah peradaban maju.

            Jika kita menilik kembali sejarah Islam, kemajuan peradaban dunia Islam ternyata berbanding lurus dengan perdulinya umat kala itu terhadap ilmu. Masa keemasan Islam pasti dibarengi dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini juga diakui oleh Miri Shefer Mossensohn, seorang peneliti non muslim di Tel Aviv University, dalam bukunya Science Among The Ottoman, dia mengatakan:

            “Selalu ada korelasi antara perkembangan keilmuan dengan bangkitnya sebuah peradaban, kegemaran pada keilmuan layaknya bahan bakar sebuah peradaban, baik baik masyrakat maupun penguasa”

            Tinta sejarah telah mencatat setiap goresannya, bagaimana para penguasa dan masyarakat begitu perhatian akan hal ini. Bentuk dukungan dan perhargaan mereka terhadap ilmu memang tak bisa disangsikan.

Selain bentuk perhatian berupa pengadaan fasilitas keilmuan, seperti Baitul Hikmah yang didirikan oleh khalifah al-Ma’mun pada masa Daulah Abasiyah, Madrasah Nizamiyah yang didirikan oleh perdana Menteri kesultanan Sekjek; Nizam al-Mulk, atau Universitas al-Azhar pada masa Daulah Fathimiyah. Perhatian dan penghormatan pemerintah juga sangat besar kepada para guru. Tak sekedar dorongan moral dan moril, hingga materilpun diberikan kepada para ulama dan penuntut ilmu.

Seperti Syaikh Najmuddin al-Khubusani, seorang ulama yang mengajar di madrasah  ash-Shalahiyah yang didirikan oleh Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Beliau diberi empat puluh dinar setiap bulan sebagai mukafaah, sepuluh dinar sebagai bentuk isyraf (pemuliaan), bahkan beliau disuplay 60 rithl roti (27kg) serta  dua tandon air setiap harinya. (As-Shuyuti, Husnu al-Muhadharah, 2/57)

Disebutkan juga bahwa universitas al-Azhar Kairo memberikan mukafaah bagi para masayikhnya yang sangat mencukupi kebutuhan mereka, bahkan univesitas tersebut membentuk badan khusus yang bertugas mengurusi mukafaah bagi para pengajarnya (Musthafa as-Siba’i, Min Rawai’i Hadharatina: 102)

Dengan adanya dukungan dan penghormatan semacam itu, maka para ulama bisa kosentrasi dalam kegiatan keilmuannya; mengajar, menulis, berdakwah, serta membina umat tanpa harus terlalu memikirkan urusan duniawinya. Hingga pada akhirnya, dengan fasilitas keilmuan yang tersedia dan SDM ulama yang fokus di bidangnya, maka lahirnya generasi umat yang terbina, yang dengan izin Allah ﷺ akan menjadi tonggak dari majunya peradaban Islam.

            Namun, kondisi hari ini seakan terbalik 180 derajat, guru atau ulama sebagai ujung tombak peradaban seperti termarjinalkan. Alih-alih diperhatikan agar bisa perperan penuh mencerdaskan generasi bangsa dan agama, tapi nyatanya malah dipandang sebelah mata. Bahkan, terkadang antara kewajiban yang harus diemban dengan hak yang diterima tidak sebanding setara. Hal ini yang menjadikan guru tak lagi memprioritaskan tanggung jawab sebagai pendidik, namun terpecah fokusnya untuk mencari penghidupan.

Wal akhir, hal ini harusnya menjadi renungan bagi seluruh umat Islam yang rindu lahirnya peradaban. Terlebih bagi mereka yang telah mengikrarkan diri sebagai pelayan umat dan pejuang kebangkitan Islam. Wallahu a’lam (Risdhi ar-Rasyid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *